Jumat, 15 April 2016

Kisah Haru Abu Qilabah al-Jarmi




Abu Qilabah al-Jarmi (Wafat 104 H / 722 M). Beliau bernama ‘Abdullah bin Zaid bin 'Amr al-Jarmi, salah seorang ahli ibadah dan ahli zuhud yang berasal dari Kota Bashroh. Seorang 'alim yang sangat mumpuni dalam masalah peradilan dan hukum. Beliau diminta menjadi hakim, tapi beliau enggan. Akhirnya, beliau melarikan diri ke Syam, dan wafat di sana pada tahun 104 Hijriah pada masa kekuasaan Yazid bin ‘Abdil-Malik.

Kisah mengharukan yang dialaminya diceritakan oleh Ibnu Hibban dalam Kitab ats-Tsiqaat (jilid 5, diterbitkan Haidar Abad), dengan sanadnya dari al-Awza'i, dari ‘Abdullah bin Muhammad, ia bercerita:

Aku keluar menuju tepi pantai untuk menjaga kawasan pantai (dari serangan musuh). Tatkala tiba di tepi pantai, tiba-tiba aku telah berada di sebuah dataran lapang di suatu tempat (di tepi pantai). Di dataran tersebut ada sebuah kemah, yang di dalamnya terdapat seseorang yang telah buntung kedua tangan dan kedua kakinya. Pendengarannya telah lemah dan matanya telah rabun. Tidak satupun anggota tubuhnya yang bermanfaat baginya, kecuali lisannya. Orang itu berkata: “Ya, Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memuji-Mu, sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, dan Engkau sungguh telah melebihkan aku di atas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan”.

‘Abdullah bin Muhammad berkata: “Demi Allah, aku akan mendatangi orang ini, dan aku akan bertanya kepadanya bagaimana ia bisa mengucapkan perkataan ini. Apakah ia memahami dan mengetahui yang diucapkannya itu? Ataukah ucapannya itu ilham yang diberikan kepadanya?”

Akupun menghampirinya, lalu mengucapkan salam kepadanya. Kukatakan kepadanya: “Aku mendengar engkau berkata, ‘Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memuji-Mu, sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, dan Engkau sungguh telah melebihkan aku di atas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan’. Nikmat manakah yang telah Allah anugerahkan kepadamu, sehingga engkau memuji Allah atas nikmat tersebut? Kelebihan apakah yang telah Allah anugerahkan kepadamu, sehingga engkau mensyukurinya?.”


Minggu, 03 April 2016

Seandainya Perempuan Itu Bersabar


Seorang perempuan berkebangsaan Lebanon bercerita tentang saudarinya di Syiria, tentang peristiwa yang menimpanya setelah ajal menjemput, tepatnya beberapa saat usai pemakaman. Perempuan Lebanon ini bertolak menuju Syiria tempat saudarinya meninggal dan tiba di sana waktu shalat ashar. Namun ia terlambat, jenazah saudarinya sudah dikuburkan sebelum kedatangannya.

Setelah maghrib, pergilah perempuan ini dengan ditemani keluarga yang berkabung menuju makam saudarinya. Dengan petunjuk keluarga si mayit, sampailah mereka ke pemakaman dan malampun semakin larut dan mencekam.

Ketika mereka berada di dekat makam, tiba-tiba keanehan terjadi. Kuburan yang masih basah itu bergetar dan bergoncang keras. Terdengar suara jeritan dan rintihan. Gundukan tanah itu bergerak hebat. Melihat itu, keluarga si mayit segera membongkar kuburan. Mereka menduga mayit di dalamnya masih hidup.

Tragis, setelah dibongkar dan kuburan terbuka, jenazah perempuan itu berubah menjadi hitam legam. Tak tahan dengan pemandangan yang mengiris jiwa itu, merekapun menguburnya kembali. Namun, usai dikuburkan, gundukan makam kembali bergoncang hebat. Akhirnya, mereka meninggalkan pemakaan, pulang menuju kediaman. Tak lama kemudian, para penggali kubur menyusul mereka dan menyampaikan bahwa suara aneh masih terdengar dari dalam kubur.

Ketika perempuan Lebanon ini ditanya perihal saudarinya, dia pun bercerita bahwa saudarinya semasa hidup rajin melakukan shalat. Namun ia pernah lima kali mengalami keguguran. Dan kenyataan pahit ini tidak bisa ia terima, sehingga ungkapan caci maki kepada Allah tak elak keluar dari mulutnya. “Buat apa shalat, Allah telah mengambil anak-anakku, tak ada gunanya aku shalat”, tuturnya. (Na’uudzu billaah)

Seandainya saja dia bersabar, andai saja ia berucap hamdalah serta tidak menentang apa yang Allah taqdirkan pada dirinya, tentu akan tercatat pahala yang besar baginya, dan syafa’at anak-anaknya akan menolongnya kelak di akhirat. Akan tetapi, tidak demikian. Ia mencaci maki Allah dan perbuatannya itu membawa mala petaka pada dirinya di akhirat. Kita berlindung kepada Allah dari keyakinan, perbuatan dan ucapan kufur semacam ini.

Diceritakan ulang oleh H. Liri Suheri, H. Abdul Malik Siregar, Lc., H.Muhammad Ainur, Lc. dan Zainal Abidin Muhja dalam buku “Penawar Hati, Penyejuk Jiwa”, terbitan IMAGE (Ikatan Mahasiswa Indonesia Global University, Beirut, Lebanon.

Sumber: http://abu-nabiel.blogspot.co.id/2014/06/seandainya-ia-bersabar.html

>>> Kisah ini juga pernah saya dengar langsung dari penuturan Ustadz Khairi Anwar, Lc, alumni Global University dalam majelis taklim yang dilaksanakan di Kubu Babussalam, Rokan Hilir pada bulan Maret 2016.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...