Jumat, 10 Juni 2016

Iblis Menggoda Syaikh Abdul Qadir al-Jilani

Suatu ketika wali Allah yang sangat saleh; Syaikh  Abdul Qadir al-Jilani sedang berada dalam khalwatnya, tiba-tiba beliau didatangi Iblis yang menyamar sebagai cahaya/sinar sangat indah. Iblis berkata: "Wahai Abdul Qadir, Aku adalah Allah, seluruh kewajiban telah aku gugurkan darimu, dan segala yang haram telah aku halalkan bagimu. Maka berbuatlah sesukamu, karena seluruh dosa-dosamu telah aku ampuni....".

Saat itu pula Syaikh Abdul Qadir menjawab: “Khasi'ta ya Iblis...khasi'ta ya la'in... (Kurang ajar engkau wahai Iblis...kurang ajar engkau wahai makhluk terkutuk...). Mengetahui penyamarannya terbongkar, Iblis kemudian mengaku kalau dia memang Iblis, ia lalu berkata: "Wahai Abdul Qadir, engkau telah mengalahkanku dengan ilmumu, padahal dengan cara ini aku telah menyesatkan 70 orang lebih ahli ibadah sebelum engkau...".
[Cerita di atas dikutip oleh para ulama kita, di antaranya Syaikh Abd al-Wahhab asy-Sya'rani dalam ath-Thabaqat al-Kubra, Syaikh Yusuf Isma'il an-Nabhani dalam Jami' Karamat al-Awliya', Bin al-‘Imad al-Hanbali dalam Syadzrat adz-Dzahab fi Akhbari Man Dzahab, dan lainnya].

Dari kisah nyata ini para ulama kita menuliskan catatan penting, sebagai berikut:
1. Syaikh Abdul Qadir tahu bahwa yang datang tersebut adalah Iblis, karena Iblis menyerupai sinar, sedangkan Allah bukanlah sinar. Allah yang menciptakan segala sinar, maka Allah tidak sama dengan ciptaan-Nya tersebut. Adapun nama Allah (dalam al-Asma' al-Husna) "an-Nur", bukan artinya Allah adalah cahaya, tetapi artinya "Yang Maha memberi petunjuk", sebagaimana telah dijelaskan oleh sahabat Abdullah bin Abbas dalam penafsiran beliau terhadap firman Allah: "Allahu nurus samawati wal ardh...".

2. Bahwa yang datang tersebut Iblis, karena ia berkata bahwa segala kewajiban telah digugurkan, dan segala yang diharamkan telah ia halalkan. Jelas, klaim semacam ini bukan berasal dari syari'at Allah dan rasul-Nya, karena seseorang setinggi apapun derajatnya tidak akan pernah gugur darinya kewajiban shalat 5 waktu, puasa Ramadhan, juga tidak akan pernah halal baginya perbuatan zina, mencuri, membunuh, dan perkara haram lainnya. Dengan demikian bila ada yang mengaku dirinya "wali", sementara ia meninggalkan kewajiban-kewajiban agama, atau mengerjakan larangan-larangan haram, maka dapat dipastikan dirinya bukanlah wali Allah, tetapi wali (penolong) Iblis.

3. Bahwa yang datang tersebut Iblis, karena ia berkata-kata dengan huruf, suara, dan bahasa, sedangkan sifat Kalam Allah bukan huruf, bukan suara dan bukan bahasa, karena jika demikian maka Allah sama dengan makhluk-Nya. Adapun kitab al-Qur'an dalam bentuk tulisan-tulisan Arab, huruf-huruf, dibaca dengan lidah dan suara, ditulis di atas lembaran-lembaran, maka itu adalah UNGKAPAN ('ibarah) dari Kalam Dzat Allah.

4. Bahwa yang datang tersebut Iblis, karena Iblis berada di suatu tempat, sedangkan Allah ada tanpa butuh pada tempat dan arah. Allah bukan benda yang dapat disentuh tangan (hajm katsif; seperti manusia, tanah, tumbuhan, dll), dan Allah bukan benda yang tidak dapat disentuh dengan tangan (hajm lathif; seperti cahaya, udara, ruh, dll). Allah yang menciptakan benda katsif dan bukan benda lathif. Oleh karena Allah bukan benda maka Allah tidak boleh disifati dengan sifat-sifat benda, seperti bergerak, turun, naik, memiliki tempat, memiliki arah, dan lainnya, karena setiap benda dan sifat-sifatnya adalah makhluk Allah, dan Allah tidak sama dengan makhluk-Nya. Maka dari itu, para ulama dari masa ke masa satu pendapat dalam keyakinan ini, bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Amirul Mu'minin Ali bin Abi Thalib -semoga Allah meridlainya- berkata:
كَانَ اللهُ وَلاَ مَكَانَ وَهُوَ اْلآنَ عَلَى مَا عَلَيْهِ كَانَ

"Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat, dan Dia sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada tanpa tempat". (Dituturkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam kitabnya al-Farq bainal Firaq, hlm. 333).

5. Bahwa dalam beribadah,seseorang harus mendahulukan ilmu daripada amal. Perhatikan ucapan Iblis kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, bahwa dia sudah menyesatkan 70 orang lebih ahli ibadah. Mereka hanya memiliki modal semangat beramal tetapi tidak tahu ilmu agama, sehingga ketika Iblis datang untuk menjerumuskan mereka, mereka tidak menyadarinya. Amirul Mu’minin Umar bin Abdul ‘Aziz pernah berkata: “Seseorang yang tidak tahu akan ilmu agama, maka apa yang ia rusak lebih banyak daripada yang ia perbaiki”. Al-Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih nya beliau menulis sebuah bab: “Bab al-‘Ilm Qablal ‘Amal”. Ini semua menunjukkan betapa urgennya setiap muslim mendasari amal perbuatannya dengan ilmu. Dengan ilmu agama, seseorang tahu tata cara ibadah yang benar. Dengan ilmu agama pula seseorang dapat mengalahkan tipu daya Iblis. Ilmu agama adalah kunci keselamatan dunia dan akhirat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...