Semakin hari saya semakin bersemangat mencari jalan untuk
meraih mimpi. Sampai pada suatu hari dimana saya menemukan “inti sari” dari konsep
usaha atau ikhtiar. Ya, kita memang wajib ikhtiar untuk mendapatkan sesuatu
yang kita inginkan. Ikhtiar yang saya jalankan bukan menabung karena memang gaji
pekerjaan saya hanya cukup untuk makan sekeluarga, dan tidak bisa ditabung lagi,
hmm…. Terkesan kere memang, tapi alhamdulillah saya masih bersyukur dengan
rejeki yang diberikan Allah.
Jadi? Ikhtiar saya mulai dengan belajar mengemudi alias nyetir. Memang
ada sebagian orang yang berkata: “Ntar kalo punya mobil pasti bisa nyetir”. Prinsip
ini saya nilai kurang pas, karena ibarat orang memancing, kalau mau dapat ikan maka
harus melengkapi diri dengan kemahiran memancing, betul? Ya, saya ingin punya
mobil maka saya harus pandai nyetir dulu. Soal nanti jadi punya mobil atau
tidak yang penting bisa nyetir, siapa tahu suatu hari nanti saat
mengemudikan mobil orang baik, eh…mobilnya dipinjamkan atau malah
dikasih (bukan ngarep dan tamak, hanya berharap kepada Allah yang Maha
Pemurah).
Mulailah saya belajar nyetir dengan meminta bantuan saudara ipar
yang waktu itu sering merental mobil. Tak puas belajar dari saudara ipar yang dulunya belajar otodidak, saya lanjutkan dengan
kursus mengemudi. Tiga hari kursus,
instrukturnya bilang kalau skill mengemudiku sudah dianggap cukup, hingga sertifikatpun
diterbitkan.
Setelah mendapat sertifikat, sayapun melanjutkan ikhtiar,
yaitu mengurus SIM A. Setelah beberapa kali menemui kegagalan saat tes (kegagalan adalah awal kesuksesan bukan?),
akhirnya SIM pun saya dapatkan. Alhamdulillah. Sampai di sini saya rasa ikhtiar
sudah cukup, tinggal menabung sebanyak-banyaknya atau menunggu keajaiban dari
Allah Tuhan semesta alam yang Maha Kaya dan tidak butuh apapun dari
makhluk-Nya.
Ikhtiar sudah, tinggal satu langkah lagi untuk mewujudkan mimpi,
yaitu doa. Di sini, kembali saya menemukan “intisari” dari doa. Berawal dari inspirasi
dari beberapa pakar motivasi (motivator) muslim, bahwa dalam berdoa kita harus menjelaskan
dengan rinci dan detil apa yang kita pinta dan mohon. Apabila kita minta sesuatu
pada Allah, maka sebutkan dengan sejelas-jelasnya, minta mobil misalnya, sebutkan
apa mereknya, tipe apa, warna apa, dan seterusnya (begitu katanya), jangan
hanya bilang: “Ya Allah, limpahkan rejeki yang banyak kepadaku”. Ya…tidak salah
sih, walaupun Allah Maha Tahu bahkan isi hati kita.
Namun yang paling penting dalam berdoa, carilah waktu-waktu
yang mustajab alias cepat terkabul, seperti saat tengah malam, antara adzan dan iqamah, malam hari raya
idul fitri atau idul adha, dan lain-lain (nanti tanyakan pada pak ustadz aja ya).
Juga, berdoa di tempat-tempat mustajab, seperti makam para wali dan orang-orang
sholeh, beberapa tempat di Mekah dan Madinah, dan seterusnya.
Yang tak kalah penting adalah, mintalah istri anda untuk
berdoa dengan doa yang sama dengan Anda, yakni minta mobil (ini berlaku
bagi yang punya istri, kalau belum ya segera nikah dulu). Yang paling penting
diantara yang penting adalah, mintalah orang tua Anda, khususnya ibu, agar ikut
mendoakan supaya Anda cepat memiliki mobil. Sungguh, doa ibu kepada anaknya tiada
bandingannya.
Ya…ikhtiar dan doa, dua hal itulah yang saya lakukan untuk
mewujudkan mimpi memiliki mobil. Dan tahukah Anda? (sekedar ingin berbagi kisah dan
nikmat Allah), tiga bulan setelah saya meminta doa dari istri, ibu kandung,
ibu dan ayah mertua, akhirnya impian yang telah lama itu terwujud. Lha…kok bisa? Duitnya dari
mana? Itulah rahasia rejeki yang tidak dapat diakal-akal dan tidak bisa
dirumuskan dengan matematika. Hanya bermodal niat baik, keridhaan dan doa ajaib
dari orang tua kita. Saya rasa hanya itu kuncinya, apabila orang tua ridha maka Allah pun
ridha, dan sebaliknya apabila orang tua murka maka Allah pun murka. Sekian
semoga menginspirasi Anda. Baca lanjutan kisahnya di sini!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar